Ternyata yang Gampang Sakit Kepala itu Gampang Sakit Hati


Jalan Sutra- Sakit kepala adalah gangguan fisik, seharusnya berbeda dengan sakit hati yang merupakan gangguan perasaan. Namun ilmuwan membuktikan keduanya punya kesamaan, sehingga orang yang gampang sakit fisik juga gampang tersakiti perasaannya.

Dalam sebuah penelitian terbaru, Prof Naomi Eisenberger dari University of California mengungkap bahwa nyeri fisik maupun emosional bisa memicu reaksi yang sama di otak. Karena adanya kesamaan tersebut, maka keduanya bisa saling berhubungan.

Nyeri emosional saat sedang sakit hati misalnya, terbukti memicu reaksi di bagian otak yang selama ini diketahui berhubungan dengan nyeri fisik. Artinya ketika seseorang ditolak oleh calon pacar, atau diputus oleh kekasihnya maka reaksi otaknya sama saja dengan saat sakit kepala.

Nyeri fisik seperti misalnya sakit kepala juga melibatkan 2 aspek berbeda di otak, salah satunya berhubungan dengan perasaan negatif. Kedua aspek tersebut adalah pengalaman sensoris, yang ternyata juga berhubungan dengan sakit hati, serta komponen emosional.

Prof Eisenberger mengatakan, nyeri fisik dan nyeri emosional sangat erat berhubungan satu sama lain. Akibatnya jika seseorang gampang mengalami sakit hati, maka orang itu juga gampang sakit kepala dan hubungan yang sama juga berlaku sebaliknya.

"Sepertinya kita terbiasa menempatkan nyeri fisik lebih tinggi derajatnya daripada nyeri emosional. Padahal penelitian ini membuktikan, nyeri itu benar-benar ada ketika seseorang ditolak atau dikucilkan," ungkap Prof Eisenberger seperti dikutip dari Dailymail.

Menariknya lagi, hasil penelitian juga membuktikan bahwa penggunaan obat pereda nyeri bisa mempengaruhi nyeri perasaan saat sedang sakit hati. Seseorang yang sedang mengonsumsi obat pereda nyeri selama 3 pekan berturut-turut dikatakan tidak mudah sakit hati.

Meski begitu, Prof Eisenberger menegaskan bahwa pereda nyeri sangat tidak disarankan untuk mengatasi sakit hati sebab obat itu tidak akan menyelesaikan persoalan sesungguhnya. Apalagi berdasarkan penelitian, konsumsinya harus 3 pekan sehingga efek sampingnya bisa menyebabkan gangguan hati dan ginjal.







Digg Twitter Facebook
Home